Oleh : Paul L.Tobing
Artikel Ini Sudah dimuat pada Kompas Jabar 24 Juni 2007 dengan judul : “Bersepeda di Kota Bandung” Saya tayangkan lagi karena semakin relevan dengan krisis energi saat ini. Selamat Menikmati.
Orang yang pernah tinggal di Bandung 10 atau 20 tahun yang lalu, akan mengeluh dan sekaligus menyayangkan mengapa Bandung saat ini gerah, semakin panas dan tingkat polusinya termasuk yang tertinggi di antara kota-kota besar di Indonesia. Mungkin global warming dapat menjadi kambing hitam, tetapi bisa jadi Bandung juga sudah menjadi penyumbang panas bagi bumi yang semakin gerah ini.
Puluhan ribu sepeda motor memenuhi jalan-jalan di Bandung setiap hari, disamping sering membuat kesal dengan cara sebagian pengemudinya yang seenaknya. Motor-motor ini bersama mobil dan kenderaan lainnya memproduksi panas dan gas karbon yang akan akan membuat kota Bandung dari hari ke hari akan semakin panas dan tentu semakin tidak nyaman.
Mengapa tidak pakai sepeda saja ?
Tidak seperti kota-kota besar lainnya yang sebagian besar berada di dekat laut, seperti Jakarta, Semarang Surabaya dan Medan. Bandung berada di dataran tinggi yang kalau tidak dicemari oleh perilaku penduduknya, sebenarnya secara alamiah Bandung memiliki suhu yang relatif jauh lebih sejuk dibanding kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Dengan kondisi demikian, di kota ini sangat tepat jika penduduknya didorong untuk menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama. Tidak seperti Jakarta tidak bergerak saja bisa keringatan, maka Bandung masih lebih nyaman dalam hal suhu.
Keuntungan naik Sepeda
Sebenarnya kita cukup menyadari bahwa bersepeda itu sehat. Orang yang menggunakan sepeda dalam kegiatan sehari-harinya, mendapat berbagai keuntungan seperti :
- Tidak perlu membeli bahan bakar minyak.
- Tidak perlu menyediakan waktu khusus untuk berolah raga.
- Tubuh lebih sehat.
- Tidak memproduksi gas beracun dan panas.
- Tidak memproduksi suara bising.
- Mengurangi kemacetan.
Namun demikian pemkot Bandung juga perlu mendorong penduduk Bandung untuk menggunakan sepeda dengan memberi semacam insentif yang dapat berupa :
- Pembuatan jalan khusus (special track).
- Memperluas area bebas kenderaan bermesin (misalnya dengan menetapkan seluruh area jalan Merdeka bebas kenderaan bermesin).
- Membuat tempat parkir sepeda yang aman seperti dekat stasiun kereta api, terminal bus antar kota dan dalam kota, serta halte-halte bus yang ramai.
- Fasilitas yang aman untuk mencantolkan sepeda di berbagai tempat.
- Mengalihkan subsidi BBM untuk membangun fasilitas bagi pengguna sepeda.
- Mencegah pencurian sepeda dengan menghukum para pencuri dengan tegas.
- Para pemimpin Gubernur dan Walikota memberi teladan dengan senantiasa naik sepeda dari kediaman pribadi ke kantornya, bahkan hal ini perlu ditekankan pada saat acara-acara penting.
- Mendorong agar penggunaan sepeda menjadi gaya hidup yang membuat penggunanya bangga, untuk itu perlu diadakan acara-acara apresiasi untuk pengguna sepeda.
Penggunaan Sepeda di Amsterdam
Sebagai bahan pembanding, saya akan menceritakan sedikit tentang Amsterdam. Amsterdam merupakan kota terbesar di Belanda. Walau secara ekonomis penduduknya sanggup memiliki dan menggunakan mobil pribadinya, tetapi jumlah pengguna sepeda di jalan-jalan dalam kota Amsterdam lebih banyak daripada pengguna kenderaan bermesin.
Selama berada di Amsterdam penulis terkagum-kagum dengan gaya hidup sebagian besar penduduk kota ini yang sangat ramah lingkungan. Di berbagai sudut kota masih banyak taman bahkan hutan-hutan kecil yang memberi kesejukan. Dari dahan-dahan itu masih sering terdengar suara-suara burung liar yang di kota Bandung sendiri sudah jarang kita dengar. Tetapi yang membuat saya paling mengagumi penduduk kota ini adalah sebagian besar penduduknya menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utamanya.
Tua, muda, gadis atau pemuda, kaya dan miskin, pada umumnya menggunakan sepeda. Hal inilah yang membuat tempat parkir sepeda yang biasanya ada di pusat-pusat kota dan stasiun selalu penuh. Bahkan bisnis penyewaan sepeda dengan mudah kita temui di kota ini. Sedangkan penggunaan mobil, hanya dipergunakan antar kota dan itupun kalau dipergunakan ramai-ramai, pergi sendiri biasanya cukup pakai kereta api dan kalau perlu dapat membawa serta sepeda yang dapat dilipat. Tetapi kalaupun agak repot membawa sepeda, orang yang bepergian biasanya masih dapat menyewa sepeda di tempat tujuan.
Di kota ini tidak ada kesan sama sekali bahwa sepeda hanya dipergunakan orang-orang dengan kelas ekonomi tertentu. Sehingga tidak jarang kita lihat seorang gadis yang cantik dengan dandanan yang indah menaiki sepeda yang untuk Indonesia mungkin termasuk sepeda butut. Alangkah indahnya kalau perilaku penduduk Amsterdam yang positif ini kita tiru, saya yakin jika penduduk Bandung semakin banyak menggunakan sepeda maka suhu kota Bandung ini akan kembali sejuk, penduduknya juga semakin sejuk, bahkan sepeda bisa menjadi trademarknya kota Bandung, menggantikan Yogyakarta yang sudah kehilangan identitasnya sebagai kotea sepeda. Hayo beli dan pakai sepeda sekarang !!
Berikut ini saya tampilkan beberapa foto tentang seluk beluk sepeda di Amsterdam.
Suasana Lalulintas Sepeda di Amsterdam, perhatikan traffic light khusus untuk sepeda. Perhatikan gadis cantik yang tidak merasa malu dengan sepeda ”butut”nya
Jalan Khusus untuk pengendara sepeda, cukup leluasa untuk berpapasan.
Tempat Parkir Untuk Sepeda Dekat Stasiun Sentral Amsterdam
Tempat Mencantol Sepeda di Pinggir Kanal
Pengamanan yang mencegah sepeda ”butut” ini jangan sampai digondol orang iseng yang kebetulan lagi butuh kenderaan.
Selain Sepeda, Penduduk Belanda juga banyak yang menggunakan kenderaan air tanpa mesin
Bagus juga usulnya.
Tapi bagi orang-orang tua susah juga ,sebab disiplin berlalulintas orang Indonesia tidak seperti di Belanda sono . Bisa mati jantungan bro !
Salam !